Arda Dinata
Arda Dinata
Arda Dinata adalah penulis storytelling religius yang dikenal dengan gaya penulisannya yang lembut, empatik, dan tidak menggurui. Dengan pengalaman menulis ratusan ribu konten inspiratif yang menyentuh pembaca.
🌐 Jaringan Blog Arda Dinata
Logo Buku dan Novel Inspiratif Online
Temukan lebih banyak
Memuat daftar buku...
Koalisi Hati Nurani, Pemimpin dan Perdamaian
Arda Dinata
Dilihat ... Bab

📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!

Oleh: ARDA DINATA

JAUH di luar kota Madinah, hiduplah seorang penggembala kambing. Ia adalah Wahab bin Qabus. Setelah masuk Islam, Wahab tidak merubah aktivitas hidupnya sebagai “orang kampung”, seperti sebelum memeluk Islam. Hari-harinya diisi dengan kebiasaan rutin, bersahabat dengan puluhan kambingnya. Betul, kalau ia telah berubah menjadi seorang muslim, tapi tidak bisa dipungkiri kalau pribadinya tetap setia sebagai seorang penggembala kambing.

Aktivitas penggembalaan itu, mungkin tidak begitu banyak memberi makna baru bagi dirinya. Kecuali pola penghayatan hidup barunya sebagai seorang muslim. Suatu waktu, saat perubahan itu menghampiri Wahab, ia pergi ke kota Madinah lengkap dengan kambing-kambingnya. Awal kepergiannya tidak terlalu istimewa, mungkin hanya untuk menjual kambing-kambing itu, lalu pulang kembali ke kampungnya dengan membawa oleh-oleh dan tetap beraktivitas seperti sediakala.

Namun, setibanya di Madinah, hati kecil Wahab “mengetuknya” untuk mencari tahu keberadaan Rasulullah, yang selama ini menjadi pujaan hati dan teladan bagi hidupnya. Lalu, informasi itu ia dapatkan, bahwa Rasulullah tengah pergi ke medan perang di Uhud. Mendengar kabar itu, Wahab spontan berniat menyusul Rasulullah dengan membawa sebuah pedang sebagai bekalnya. Sedangkan kambing-kambingnya ia tinggalkan begitu saja.


Sesampai di Uhud, kondisi pertempuran telah melampaui setengah babaknya. Posisi Rasulullah saat itu tengah dikepung oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhasil mengecoh para pemanah dari pasukan muslim di atas bukit. Suasana begitu mengerikan. Penyerbuan dari belakang oleh kaum kafir telah membuat komposisi kaum muslim berantakan. Di saat Rasulullah terkepung, beliau bersabda dengan suara keras, “Barangsiapa dapat membubarkan kepungan mereka, ia akan bersamaku di surga.”

Mendengar seruan hati Rasulullah itu, Wahab langsung menghunus pedangnya dan menyerang kepungan orang-orang kafir itu. Mereka pun kocar-kacir dan melarikan diri. Setelah berulang kali orang-orang kafir itu mengepung lagi. Dan Wahab pun berperang dengan keberaniannya, diselingi teriakan Rasulullah yang menyemangatinya.

Walau akhirnya, Wahab menemui takdirnya, mati syahid di Uhud yang membara itu. Usai perang, sesaat setelah orang-orang muslim akhirnya berhasil mengusir orang-orang kafir itu, Wahab tergeletak bermandikan darah. Berkait dengan ini, Sa’ad bin Abi Waqas mengisahkan, “Aku belum pernah melihat orang yang demikian hebat bertempur seperti Wahab bin Qabus.”

* *

KISAH di atas, sesungguhnya telah menuntun kita agar mampu membiasakan diri membangun “koalisi hati” dalam menjalani hidup ini. Kondisi keterpautan hati Wahab dan kematiannya itu, sesungguhnya merupakan sebuah gambaran obsesi kemuliaan dan bagaimana cara memperturutkannya. Inilah sesungguhnya sebuah kejujuran akan kedamaian dalam hidup.

Mau bukti? Mari kita tafakuri dalam relung hati yang paling tersembunyi sekalipun. Adakah yang lebih jujur dari hati nurani, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan alpa. Singkatnya, sesungguhnya kondisi yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini, tidak lain saat di mana kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati (keimanan).

Betul, kalau hidup ini ada peran beragam. Bahkan kehidupan ini sesungguhnya dibangun atas keberagaman dalam bingkai “kesatuan keimanan”. Abu Hamid al-Ghazali mengungkapkan, iman adalah pembenaran dengan hati yang kuat, yang tidak ada keraguan padanya, hingga mencapai derajat yakin. Dan, antitesa iman adalah kufur yang merupakan pembangkangan, pengingkaran, dan pendustaan terhadap Rasulullah Saw. dan atas sesuatu yang beliau sampaikan. Sedangkan, iman adalah pembenaran seluruh yang beliau sampaikan dan bentuknya ini bersifat plural sesuai dengan pluralitas tingkat takwil bagi wujud ini.

Di sini, intinya yang patut disandarkan dalam perilaku membangun kedamaian hidup adalah tafsir akan kesatuan iman itu tidak berarti kesatuan jalan dan perangkat serta teknis yang dipergunakan oleh seorang mukmin dalam menghasilkan keimanan yang satu.

Dalam konteks sekarang, di mana kaum muslim dalam membangun kehidupan berbangsa ini lebih memilih warna tafsirnya sendiri. Hal ini sah-sah saja. Namun sesungguhnya, bagi seorang muslim, ia tidak bisa lari dan melupakan diri atas kesatuan keimanan yang telah diyakininya. Artinya, ketika usaha mewujudkan kedamaian ini secara fisikal berbeda-beda warna dan ”susah untuk dipersatukan,” maka saat itulah jalan satu-satunya adalah setiap kita untuk ingat dan mampu mewujudkan terciptanya “koalisi hati”.

* *

KOALISI hati, adalah kata yang indah dan memiliki kekuatan yang sungguh luar biasa, bila setiap kita mampu mensinergikannya. Lebih-lebih hal itu diperuntukan untuk kebaikan bersama. Tanpa ada koalisi hati, sesungguhnya tidak mungkin ada perdamaian dalam hidup manusia. Karena, bukankah perdamian itu sendiri merupakan fitrah dari hati manusia?

Kekuatan koalisi hati bukan hanya pada fitrahnya, tapi karena hati merupakan tunas dari kekuatan kedamaian itu sendiri. Dr. Ahmad Faried menggambarkan hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah sebagai reaktor pengendali atau remote control sekaligus pemegang komando terdepan (utama). Oleh karena itu, semua anggota tubuh berada dibawah komando dan dominasinya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, dalam ketaatan atau penyimpangan.

Islam sendiri membimbing manusia bagaimana menitikberatkan pada hasrat hidup bermakna sebagai motif asasi fitrahnya. Sehingga tidak berlebihan ada pandangan yang menyebutkan kalau stabilitas, ketenangan, kedamaian, juga kebahagiaan manusia, berbanding lurus dengan sejauh mana ia menyelaraskan diri dengan fitrahnya serta menghadapkan wajahnya ke jalan Islam. Bila manusia menyalahinya, akan menjadikan kehidupan ini tidak bisa berfungsi dengan baik, ada banyak ketimpangan dan kejanggalan.

Untuk itu, agar kedamain hidup berbangsa ini tercipta, kiranya isi nasehat ulama kepada penguasa Umar bin Abdul Aziz patut diteladani. Lebih-lebih bagi mereka yang telah berhasil dipilih sebagai anggota “legislatif dan eksekutif”. Setelah dilantik menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta nasehat kepada para ulama. Salim bin Abdullah menasihatinya, “Wahai, Khalifah! Jadikanlah seluruh rakyat sebagai ayah, saudara, dan anakmu. Berbaktilah kepada ayahmu, periharalah hubungan baik dengan saudara-saudaramu, dan sayangilah anakmu.”

Ulama lain, Muhammad bin Ka’ab, menasihati, “Wahai Khalifah, cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, dan bencilah sesuatu untuk orang lain sebagaimana engkau membenci sesuatu untuk dirimu sendiri.”

Hasan al-Bashri menasihati, “Demi Allah, aku telah bergaul dengan banyak orang yang sedap dipandang mata dan tutur katanya menyentuh hati. Ucapan mereka adalah penawar bagi apa yang ada di dalam dada. Memelihara diri dengan halal lebih mereka utamakan daripada menjaga diri dari yang haram. Perhatian mereka terhadap shalat sunat lebih besar daripada perhatian kita terhadap shalat fardu. Mereka menutupi kebaikan-kebaikan mereka sebagaimana kita menutup-nutupi segala keburukan kita. Mereka menangis jika berbuat kebaikan sedangkan kita tertawa jika berbuat kesalahan.” Khalifah mendengar semua nasihat ini sambil menutupi wajahnya dan menangis tersendu-sendu.

Akhirnya, sudah menjadi kepastian kalau peran strategis itu membutuhkan keahlian dan kapasitas yang tidak biasa-biasa saja. Dialah sosok-sosok manusia yang mampu realisasikan “koalisi hati” dalam hidupnya sebagai tunas kedamaian. Sesungguhnya, kejujuran pada (koalisi) hati nurani, yang disirami dengan iman dan keyakinan penuh kepada Allah, adalah mata air kedamaian yang tidak pernah kering. Wallahu a’lam. ***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://www.miqra.blogspot.com/
Daftar Bab
Memuat bab...

Tulis Komentar di Bawah ini!

Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Nyamuk
Bersahabat Dengan Nyamuk
Beli / Baca
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / Baca
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / Baca
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Malaria
Bersahabat Dengan Malaria
Beli / Baca
Atasi Penyakit Skabies
Atasi Penyakit Skabies
Beli / Baca
Sanitasi Atasi Stunting
Sanitasi Atasi Stunting
Beli / Baca
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Rahasia Kimia Cinta
Rahasia Kimia Cinta
Beli / Baca
Kesehatan Ibu dan Anak
Kesehatan Ibu & Anak
Beli / Baca
Menguasai Kecerdasan Buatan AI Untuk Pemula
Menguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / Baca
SMART Sanitation
SMART Sanitation
Beli / Baca
Pola Makan Sehat di Era Digital
Pola Makan Sehat di Era Digital
Beli / Baca
Dunia Sanitasi Lingkungan
Dunia Sanitasi Lingkungan
Beli / Baca
Manusia dan Lingkungan
Manusia dan Lingkungan
Beli / Baca
Kepemimpinan dan Komunikasi Dalam Manajemen Proyek
Kepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / Baca
Keperawatan Jiwa
Keperawatan Jiwa
Beli / Baca
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Kesehatan Alat Makan
Kesehatan Alat Makan
Beli / Baca
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / Baca
Mindmap Penulisan Buku
Mindmap Penulisan Buku
Beli / Baca
Menjadi Penulis Mandiri
Menjadi Penulis Mandiri
Beli / Baca
Strategi Produktif Menulis
Strategi Produktif Menulis
Beli / Baca
Creative Writing dan Writerpreneurship
Creative Writing & Writerpreneurship
Beli / Baca
Membangun Keluarga Berkualitas
Membangun Keluarga Berkualitas
Beli / Baca
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / Baca
Keluarga Penuh Cinta
Keluarga Penuh Cinta
Beli / Baca
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / Baca
Pernikahan Berkalung Pahala
Pernikahan Berkalung Pahala
Beli / Baca
Mengikat Cinta Kasih
Mengikat Cinta Kasih
Beli / Baca
Surga Perkawinan
Surga Perkawinan
Beli / Baca
Ibu Cinta Yang Tak Berbatas
Ibu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / Baca
Ayahku Guruku Guru Kami
Ayahku, Guruku, Guru Kami
Beli / Baca
Cerdas dan Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Cerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / Baca
RETAKAN
RETAKAN
Beli / Baca
Pecahan Cinta
Pecahan Cinta
Beli / Baca
Whispers of the Sunset
Whispers of the Sunset
Beli / Baca
Epos Aurora Petualangan di Alam Semesta
Epos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / Baca
Melangkah Dalam Cahaya Prinsip Hidup Ala Rasulullah
Melangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / Baca
Menjadi Orang Bahagia
Menjadi Orang Bahagia
Beli / Baca
Merajut Cinta Allah
Merajut Cinta Allah
Beli / Baca
Pemberdayaan Majelis Taklim
Pemberdayaan Majelis Taklim
Beli / Baca
Bermesraan Dengan Kebaikan
Bermesraan Dengan Kebaikan
Beli / Baca
Dear Friend
Dear Friend
Beli / Baca
Taman-Taman Kebeningan Hati
Taman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca